Laporan Indeks Inovasi Daerah
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Nama SKPD / Kelompok | UPT Puskesmas Paringin |
| Nama Inovasi | DARLING PAMAN JAHAT |
| Tahapan Inovasi |
|
| Inisiator Inovasi Daerah | Santy Ermasari, AMKL |
| Bentuk Inovasi |
|
| Jenis Inovasi | Belum ditentukan |
| Inovasi Dimulai | 04 January 2021 |
| Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan | DASAR HUKUM PP 86 tahun 2019 tentang Keamanan Pangan mencabut PP 28 tahun 2004 tentang Kemanan, Mutu dan Gizi Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 107 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4424). Keamanan Pangan dalam PP 86 tahun 2019 tentang Kemanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Keamanan Pangan merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan sistem Pangan. Penyelenggaraan Keamanan Pangan bertujuan agar negara dapat mcmberikan perlindungan kepada rakyat untuk mengonsumsi Pangan yang aman bagi kesehatan dan keselamatan jiwanya. Untuk menjamin Pangan yang tersedia aman dikonsumsi maka penyelenggaraan Keamanan Pangan harus diterapkan di sepanjang Rantai Pangan, mulai dari tahap produksi (budi daya), pemanenan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, peredaran hingga sampai di tangan konsumen. Kegiatan atau proses produksi untuk menghasilkan Pangan yang aman dikonsumsi di sepanjang Rantai Pangan dilakukan melalui penerapan persyaratan Keamanan Pangan. ISU STRATEGIS Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang beresiko tinggi tertular penyakit melalui makanan dan minuman. Anak-anak sering menjadi korban penyakit bawaan makanan akibat konsumsi makanan yang di beli di kantin sekolah atau penjaja kaki lima (WHO 2006). Frekuensi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan pada anak di sekolah meningkat pada tahun 2004, KLB tertinggi terjadi pada anak sekolah dasar yaitu 19 kejadian dengan jumlah korban sakit sebanyak 575 orang (Sekretariat jenderal jejaring inteligen pangan 2005). Banyak jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan sehingga justru mengancam kesehatan anak. Tingginya konsumsi Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) oleh anak sekolah yang tidak diikuti dengan penerapan cara produksi pangan yang baik (CPPB) oleh para penjaja pangan berpotensi menyebabkan masalah keamanan pangan berupa bahaya fisik, bahaya kimia, maupun bahaya mikrobiologi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) sebagai lembaga pemerintah yang berwenang dalam pengawasan makanan melakukan pengujian terhadap sejumlah PJAS yang dijual di 3950 SD/MI di Indonesia pada tahun 2011-2013 untuk mengetahui kondisinya. Untuk di Kabupaten Balangan Pernah dilakukan Penelitian oleh Puskesmas Paringin tentang Keamanan Makanan Jajanan di Sekolah. |
| Tujuan Inovasi | PERMASALAHAN MAKRO Makanan jajanan di sekolah ternyata sangat beresiko terjadi cemaran biologis atau kimiawi yang banyak mengganggu kesehatan baik jangka pendek atau jangka panjang. Apalagi dalam waktu terakhir ini Badan POM telah mengungkapkan temuannya tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia di sekolah harus dihatikan secara cermat dan serius. PERMASALAHAN MIKRO Penelitian dokter Joshua Puskesmas Paringin 2019 di 5 sekolah menyimpulkan bahwa penjual makanan jajanan beresiko 3x lipat terhadap terjadinya kontaminasi makanan dibandingkan dengan usaha rumah makan. Hasil penelitiannya di 5 sekolah tersebut menyatakan bahwa dari sampel yang di ambil 50 sampel terdapat 48 sampel yang positif mengandung bahan tambahan makanan yang di larang seperti pemanis, pewarna, pengawet, bahkan ada di temukan sampel yang mengandung bahan berbahaya seperti Methanil Yellow, Rhodamin B, Borax dan Formalin. Program inovasi ini dilakukan berdasarkan Data, survey lapangan dan penelitian yang dilakukan di SDN Paringin 2. Mengingat pentingnya pengawasan jajanan makanan sehat di sekolah maka di rasa perlu untuk pembentukan tim/kader lingkungan untuk memantau para penjual makanan jajanan. |
| Manfaat Inovasi | METODE PEMBAHARUAN UPAYA YANG DILAKUKAN SEBELUM INOVASI Anak-anak sekolah masih belum tahu tentang makanan jajanan yang sehat dan tidak mengandung bahan berbahaya UPAYA YANG DILAKUKAN SESUDAH INOVASI 1. Terbentuknya Kader Lingkungan di sekolah. 2. Anak-anak mengkonsumsi makanan jajanan yang sehat dan terhindar dari penyakit. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN Keunggulan dari Inovasi DARLING PAMAN JAHAT adalah untuk meningkatkan kesadaran penjual makanan jajanan tentang pentingnya mengkonsumsi makanan jajanan yang sehat, dengan di lakukannya pembinaan dan pengawasan oleh kader kesling, petugas puskesmas dan lintas sektor terkait. Pembinaan dan pengawasan dapat di lakukan setiap hari. Dimana setiap pembinaan dilakukan penyuluhan akan maanfaat dari memakan makanan yang sehat dan bahan-bahan yang dilarang penggunaannya. TAHAPAN INOVASI 1. Petugas menyiapkan alat dan bahan pemeriksaan termasuk surat tugas 2. Petugas mendatangi sekolah 3. Petugas menyiapkan formulir inspeksi sanitasi TPM 4. Petugas melatih kader kesling di sekolah 5. Petugas dan kader kesling mendatangi objek TPM 6. Petugas mengisi formulir IS TPM 7. Pemeriksaan sampel TPM 8. Memasukkan data tersebut ke dalam buku rekapan Inspeksi sanitasi TPM dan Entry E-Monev 9. Laporan Hasil |
| Hasil Inovasi | TUJUAN INOVASI Tujuan dari inovasi ini untuk meningkatkan derajat kesehatan siswa dan siswi sekolah dan masyarakat, dan sebagai bahan pembelajaran untuk membuat program inovasi yang berkoordinasi dengan program kesehatan lainnya juga sebagai kontributor serta referensi untuk pelaksanaan program inovasi di puskesmas dan bahan pengembangan inovasi dalam program sanitarian di puskesmas paringin. MANFAAT INOVASI 1. Bagi Dinas Kesehatan Sebagai bahan masukan program inovasi di puskesmas 2. Bagi Puskesmas Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan di puskesmas agar lebih terkoordinir, terpadu dan terarah. 3. Bagi Sanitarian Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan kinerja lewat program inovasi. 4. Bagi Sasaran Tercapainya perubahan perilaku siswa dan siswi yang lebih baik seperti tidak membeli jajanan sembarangan dan para penjual makanan jajanan agar menjaga kualitas jualannya. HASIL INOVASI 1. Banyaknya sekolah di Kabupaten Balangan yang mendapatkan sertifikat Pangan Jajanan Anak Sekolah 2. Teridentifikasinya penjual makanan jajanan yang masih menggunakan bahan tambahan makanan yang berbahaya 3. Pembinaan kader lingkungan sekolah dan penjual makanan jajanan |