Laporan Indeks Inovasi Daerah
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Nama SKPD / Kelompok | Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup |
| Nama Inovasi | Barkode Pohon Koleksi Kebun Raya Balangan (BaPoKol KRB) |
| Tahapan Inovasi |
|
| Inisiator Inovasi Daerah | M. Andy Rufisa, SE, MM |
| Bentuk Inovasi |
|
| Jenis Inovasi | Belum ditentukan |
| Inovasi Dimulai | 07 February 2023 |
| Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan | Urban Heat Islands (UHI) adalah daerah perkotaan dengan suhu yang tinggi relatif terhadap wilayah kurang berkembang atau daerah pedesaan sekitarnya (Coseo dan Larsen, 2014). UHI terutama berdampak pada manusia serta pada iklim mikro kawasan perkotaan. Beberapa penelitian menunjukkan UHI berdampak pada penurunan kenyamanan kehidupan manusia sebab disamping menimbulkan gangguan kesehatan, kebutuhan akan pendingin seperti air conditioner (AC) dan kipas angin juga bertambah sehingga terjadi pemborosan energi listrik dan peningkatan polusi (Tursilowati, 2012). Dampak lainnya ialah iklim mikro kawasan perkotaan terpengaruh akibat peningkatan suhu udara di dalam kota dibanding daerah pedesaan dengan terjadinya pembentukan ozon, perubahan iklim lokal seperti pola angin, perubahan kelembaban, badai, banjir, hingga perubahan ekosistem lokal (Malley, 2014). Kurangnya ruang terbuka seperti taman, area hutan, sungai dan aliran air, dan lansekap non-urban lainnya serta perubahan tutupan lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun di daerah perkotaan menjadi penyebab terjadinya fenomena UHI (Aisha, 2013). Hal tersebut juga diakibatkan oleh perpindahan penduduk desa ke kota sebagai suatu fenomena urbanisasi yang tidak ada hentinya yang menghadirkan sejumlah besar bangunan padat di perkotaan (Wicahyani, 2013). Limbah panas yang dihasilkan oleh aktivitas manusia termasuk panas yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor dan proses industri, konduksi panas melalui dinding bangunan atau 2 dipancarkan langsung ke atmosfer oleh sistem pendingin udara, dan panas metabolisme yang dihasilkan oleh manusia semua bergabung sehingga menyebabkan suhu udara lokal yang meningkat terutama di daerah perkotaan berkontribusi terhadap terjadinya fenomena UHI (Allen, 2000) Kita sering mendengar bahwa sumber daya hayati kita berada dalam ancaman besar oleh kerusakan hutan, jumlah jenis tumbuhan kita semakin berkurang setiap tahunnya, bahkan kita menjadi langganan 5 negara dengan jumlah keterancaman jenis tumbuhan paling banyak di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kita lalai dalam menjaga bumi, tidak tepat dalam mengelola sumber daya hayati dan keliru dalam merespon dinamika perubahan alam yang terjadi. Pada kondisi inilah diperlukannya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dapat mengelola alam dan merespon dinamika perubahannya secara tepat, akurat, dan berkesinambungan. Demikianlah semestinya, dengan iptek lah kita akan mampu menjawab semua permasalahan tersebut. Dalam rangka menjalankan program yang telah di tetapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam rangka mengurangi luas tutupan lahan bervegitasi yang semakin berkurang perlu dilakukan tindakan-tindakan oleh pemerintah daerah dan para pemegang izin untuk menanam dan memelihara pohon secara cepat, tepat dan menyeluruh. Kabupaten Balangan mempunyai keanekaragaman hayati yang berlimpah dan kawasan plasmanutfah yang luar biasa, saat musim buah masih bisa kita temui bebagai jenis tanaman dan buah-buahan eksotis dan langka dari daerah pegunungan meratus, menindaklanjuti hal tersebut Pemerintah Kabupaten Balangan bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia / Badan Riset Inovasi Nasional (LIPI/BRIN) telah berupaya untuk menjaga keanekaragaman hayati dengan membangun Kebun Raya Balangan, disertai harapan tanaman dan buah-buahan eksotis dan langka tersebut bisa dilestarikan kedepannya. Sebagai upaya tindak lanjut dari pembangunan kebun raya telah dilakukan beberapa kali ekplorasi tanaman baik di daerah balangan sendiri maupun wilayah Kalimantan selatan lainnya seperti di Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah laut. Tanaman tersebut nantinya akan menjadi tanaman koleksi kebun raya balangan yaitu adalah Koleksi (kumpulan) Tumbuhan Kebun Raya yang datanya tercatat dan terkelola dalam sistem database koleksi yang terstandar. Sebagai upaya mengatasi data tanaman tercatat dan terkelola dalam sistem database koleksi yang terstandar tadi maka Dinas Pertanahan dan Lingkungan Kabupaten Balangan mencoba membuat Barkode Pohon Koleksi Kebun Raya Balangan (BaPoKol KRB). |
| Tujuan Inovasi | 1. A. Permasalahan yang di hadapi 1. Data tanaman koleksi kemungkingan masih ada yang belum terdata. 2. Data tanaman koleksi kemungkingan masih ada yang tercatat dobel. 3. Belum memiliki data base tanaman yang terstandarisasi
B. Kendala yang di hadapi 1. Saat penanaman tumbuhan koleksi sering kali berdekatan dengan tanaman spontan yang secara genus family satu kekerabatan, sehingga saat pendataan ulang tahunan sering terlewat. 2. Belum ada penanda khusus untuk tanaman koleksi dan tanaman spontan kebun raya Balangan. 3. Tidak semua orang mengerti tentang tanaman dan manfaatnya sehingga saat datang ke kebun raya balangan hanya melihat pohon tanpa tau fungsinya untuk apa. 4. Sekarang jamannya penggunaan smartphone, jadi harus ada aplikasi yang memudahkan identifikasi tanaman kebun raya balangan. |
| Manfaat Inovasi | Untuk mengatasi masalah dan kendala yang telah di hadapi maka Inisiator melalui Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup mencoba membuat inovasi BaPoKol KRB, yang meliputi : 1. Scan barkode tanaman koleksi kebun raya balangan di mulai dari tanam tematik berkhasiat obat pegunungan meratus. 2. Scan barcode tanaman spontan kebun raya balangan di mulai dari tanam tematik berkhasiat obat pegunungan meratus. 3. Nama daerah dari tanaman koleksi. 4. Nama latin dari tanaman koleksi. 5. Asal daerah dari tanaman koleksi. 6. Kode zona penanaman. 7. Titik kordinat tanaman koleksi. 8. Manfaat dari tanaman tersebut. |
| Hasil Inovasi | 1. Kebun raya balangan mempunyai tumbuhan terdokumentasi yang datanya tercatat dan terkelola dalam sistem database koleksi yang terstandar. 2. Mampu melakukan introduksi dan domestikasi berbagai macam jenis tumbuhan bernilai ekonomi. 3. Mampu melakukan reintroduksi berbagai jenis tumbuhan langka. 4. Melaksanakan mitigasi dan adaptasi tumbuhan terhadap perubahan iklim. 5. Pengembangan koleksi plasma nutfah berbagai macam jenis tumbuhan langka dan bernilai ekonomi. 6. Konservasi tumbuhan jadi benteng terakhir keanekaragaman hayati untuk mencegah tanaman endemic asli balangan, tanaman eksotis dan langka dari kepunahan. |