Laporan Indeks Inovasi Daerah
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Nama SKPD / Kelompok | UPT Puskesmas Pirsus |
| Nama Inovasi | KADAPER (Kartu Kendali Hipertensi) |
| Tahapan Inovasi |
|
| Inisiator Inovasi Daerah | dr. Melissa Yosephine Manoi, M.Kes |
| Bentuk Inovasi |
|
| Jenis Inovasi | Belum ditentukan |
| Inovasi Dimulai | 05 June 2023 |
| Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan | DASAR HUKUM Permenkes Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024 mengatur tentang pelayanan medis. Pelayanan medis merupakan serangkaian kegiatan yang diberikan kepada pasien sesuai standar pelayanan medis yang telah ditentukan dan biasanya pada pelayanan tersebut digunakan sumber daya serta fasilitas yang optimal. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga maupun masyarakat dengan cara yang holistic, komprehensif, berkesinambungan, terkoordinasi dan dalam kontek Pelayanan Kesehatan Primer menuntut seorang dokter agar dapat menyelesaikan masalah kesehatan tidak cukup pada pemberian terapi saat pelayanan medis saja tetapi juga memantau perkembangan penyakit pasien setelah pasien kembali ke lingkungan terutama penyakit kronis. Menurut Permenkes No 71 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular, Penyakit kronis adalah penyakit jangka panjang yang memiliki masa tunggu tanda dan gejala penyakit, berkembang karena berbagai alasan, dan belum ada pengobatan yang pasti. Penyakit kronis membutuhkan perhatian medis yang teratur dan membatasi aktivitas kehidupan sehari-hari seseorang sehingga penanganannya pun berbeda dengan penyakit lain. Penanganan khusus ini tertuang dalam Permenkes Nomor 5 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Tahun 2015-2019. Peran PNS di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas adalah dengan menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif. Salah satu instansi pemerintahan yang melayani masyarakat umum adalah Puskesmas, Menurut Depkes (2009), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. ISU STRATEGIS Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta adalah 34,1% dibandingkan 27,8% pada Riskesdas tahun 2013. Dalam upaya menurunkan prevalensi dan insiden penyakit kardiovaskular akibat hipertensi dibutuhkan tekad kuat dan komitmen bersama secara berkesinambungan dari semua pihak terkait seperti tenaga kesehatan, pemangku kebijakan dan juga peran serta masyarakat. Penderita harus dilibatkan dalam perawatan mandiri penyakitnya atau yang dikenal dengan self care karena penderita adalah pelaku utama yang akan melakukan semua pengobatan dan juga melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjang keberhasilan perawatan penyakitnya. Dalam konteks pengelolaan/perawatan mandiri hipertensi, American Heart Association (AHA) merekomendasikan modifikasi perilaku yang berkaitan dengan self care yang terdiri atas: diet rendah garam, diet sehat, melakukan aktifitas fisik, mengurangi merokok, dan alkohol, menurunkan stres, menurunkan papaparan polusi, dan paparan udara dingin. (Unger et al., 2020) Tetapi sayangnya tidak semua penderita mampu melakukan manajemen pengelolaan penyakit dengan baik. Di Indonesia menurut hasil penelitian berdasarkan data yang dianalisis dari Indonesia Family Life Survey (IFLS5) menunjukkan bahwa prevalensi penderita hipertensi tinggi, tetapi tingkat kesadaran akan penyakit hanya 42,9%, dari angka tersebut yang melakukan pengobatan hanya 11,5% dan yang mengontrol penyakitnya hanya 14,3% (Peltzer & Pengpid, 2018). |
| Tujuan Inovasi | PERMASALAHAN Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang berakibat peningkatan angka kesakitan dan kematian serta beban biaya kesehatan. Hipertensi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, retina, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah perifer. Dalam upaya pengelolaan pelayanan hipertensi di Puskesmas Pirsus masih mengalami beberapa permasalahan, diantaranya adalah: a. Kunjungan pasien dengan penyakit Hipertensi masih sedikit b. Pemahaman pasien tentang manajemen penyakit Hipertensi masih kurang c. Kepatuhan pasien penyakit Hipertensi untuk berobat teratur masih kurang, pasien hanya berobat kalau ada keluhan Dari tiga masalah tersebut, setelah memperhatikan dan mengamati tentang masalah apa yang paling mendesak, paling serius juga harus segera dibahas, dan memiliki kemungkinan buruk yang muncul apabila tidak segera diselesaikan maka dibentuklah inovasi KADAPER (Kartu Kendali Hipertensi). |
| Manfaat Inovasi | Upaya Yang dilakukan Sebelum Inovasi Dalam upaya pengelolaan hipertensi, pemerintah telah melakukan berbagai program diantaranya adalah: 1. Membentuk Posbindu PTM (Pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular) sebagai bentuk partisipasi masyarakat melalui kader kesehatan 2. Menyelenggarakan program pengendalian penyakit kronis (Prolanis) bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Prolanis mencakup dua program penyakit kronis yang sangat penting di Indonesia yaitu diabetes dan hipertensi. Kegiatan prolanis antara lain pemeriksaan darah dan mengadakan pengobatan kronis yang diisi dengan kegiatan seperti penyuluhan Kesehatan dan aktivitas senam. 3. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan menjadikan hipertensi sebagai salah satu indikator dalam Program Indonesia Sehat dengan pendekatan Keluarga (PIS-PK). Program ini dilakukan melalui kegiatan kunjungan rumah, pendataan, entri dan analisis data sehingga alternatif penyelesaian masalah kesehatan berbasis data yang tepat. Upaya Yang Dilakukan Setelah Inovasi 1. Memastikan KADAPER tepat sasaran 2. Mengevaluasi seluruh kegiatan inovasi dengan melihat rekam medis pasien hipertensi, memeriksa resep obat dengan diagnosa hipertensi dan menghitung jumlah kunjungan pasien hipertensi baik di Puskesmas maupun di luar Puskesmas (Posbindu PTM dan atau Posyandu Lansia) KEUNGGULAN/KEBAHARUAN Keunggulan Inovasi KADAPER dapat dirasakan oleh masyarakat maupun tenaga Kesehatan: 1. Informatif: Meningkatnya pemahaman pasien mengenai kondisi penyakit Hipertensi, meningkatkan pemahaman pasien mengenai diet yang benar pendukung pengobatan Hipertensi 2. Mandiri: Pasien mematuhi tata cara minum obat dan disiplin untuk kontrol ke Puskesmas 3. Memudahkan tenaga Kesehatan dalam memantau perkembangan kondisi pasien dan mengevaluasi pemahaman pasien tentang penyakitnya TAHAPAN INOVASI Dalam inovasi KADAPER (Kartu Kendali Hipertensi) ada beberapa kegiatan yang dilakukan: 1. Persiapan Merancang model KADAPER 2. Pelaksanaan a. Melakukan sosialisasi kepada petugas Kesehatan mengenai manfaat KADAPER b. Memberikan KADAPER kepada pasien yang terdiagnosis hipertensi c. Melakukan sosialisasi secara individu mengenai KADAPER 3. Evaluasi Kegiatan Inovasi a. Memastikan KADAPER tepat sasaran b. Mengecek rekam medis pasien c. Memeriksa resep obat dengan diagnosis hipertensi d. Menghitung jumlah kunjungan pasien hipertensi baik di Puskesmas maupun di luar Puskesmas (Posbindu PTM dan atau Posyandu Lansia) |
| Hasil Inovasi | TUJUAN INOVASI Inovasi ini bertujuan untuk: a. Meningkatkan kunjungan pasien dengan penyakit Hipertensi yang masih sedikit b. Meningkatkan pemahaman pasien tentang manajemen penyakit Hipertensi yang masih kurang c. Memandirikan masyarakat dengan mengevaluasi kepatuhan pasien penyakit Hipertensi untuk berobat MANFAAT INOVASI 1. Masyarakat terbiasa dengan pola hidup sehat (Penerapan GERMAS) 2. Komplikasi dari Hipertensi dapat dicegah (Penerapan CERDIK) HASIL INOVASI 1. Tekanan darah pasien hipertensi terkontrol 2. Pemberian obat Hipertensi tepat guna 3. Program Pemerintah dalam pengendalian Hipertensi tercapai |