Laporan Indeks Inovasi Daerah
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Nama SKPD / Kelompok | UPT Puskesmas Paringin |
| Nama Inovasi | RESOL MAYU (Resep Online Untuk Masyarakat Umum) |
| Tahapan Inovasi |
|
| Inisiator Inovasi Daerah | APT. MUHAMMAD ADITYA NUGRAHA, S. FARM |
| Bentuk Inovasi |
|
| Jenis Inovasi | Belum ditentukan |
| Inovasi Dimulai | 01 May 2022 |
| Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan | DASAR HUKUM Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas terbagi 2, yaitu pengelolaan sediaan farmasi BMHP dan pelayanan farmasi klinis. Dalam pleayanan farmasi klinis, salah satu standar kefarmasian yang harus dilakukan adalah pengkajian dan pelayanan resep. Pengkajian dan pelayanan resep merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan termasuk peracikan obat, dan penyerahan disertai pemberian informasi. Pengkajian dan pelayanan resep dilakukan untuk semua resep yang masuk tanpa kriteria khusus pasien. Pengkajian dan pelayanan resep dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa adanya masalah terkait obat. Selain itu kegiatan ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (medication error). Dengan melakukan pengkajian dan pelayanan resep, risiko klinis, finansial, dan legal dapat diminimalisir. Pelaksana Pengkajian dan pelayanan resep dilakukan oleh Apoteker dan dapat dibantu oleh TTK. TTK dapat membantu pengkajian pelayanan resep dengan kewenangan terbatas dalam persyaratan administrasi dan farmasetik. ISU STRATEGIS Isu strategis pelayanan resep berkaitan dengan standar pelayanan kefarmasian yang harus dilakukan oleh petugas kefarmasian di Puskesmas. Adapun untuk menunjang pelayanan resep diantaranya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya teknologi digital. Tantangan global menuntut kita untuk cakap dan respon dalam menjalankan proses-proses pelayanan berbasis digital atau elektronik, terlebih lagi apabila teknologi digital sangat membantu untuk meminimalisir kesalahan yang biasanya terjadi pada saat penggunaan resep kertas. Selain itu, isu ini menjadi penting untuk direspon dalam merumuskan langkah strategis untuk mewujudkan pemerintahan kelas dunia di tahun 2025. Di Indonesia sendiri, penggunaan e-prescribing masih sangat jarang karena teknologi yang dianggap kurang memadai, serta sikap tenaga kerja medis yang belum siap menerima sistem baru. Meskipun begitu, sudah ada beberapa rumah sakit nusantara yang menyediakan pelayanan resep elektronik. Salah satu contohnya adalah RSUP Dr. Sardjito sejak 2014. DI Kabupaten Balangan, pelayanan elektronik resep juga masih belum dilaksanakan baik di Rumah Sakit maupun Puskesmas. Padahal, elektronik resep sangat membantu dalam mengurangi medication error yang ada di Puskesmas. Hal tersebut sangat berkaitan dengan visi dari Kabupaten Balangan, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Balangan. |
| Tujuan Inovasi | PERMASALAHAN MAKRO Medication error merupakan suatu kesalahan/ketidaktepatan penanganan dalam pemberian resep kepada pasien yang sudah terjadi secara global maupun nasional. Dan menurut IOM (Institutr of Medicine) 32-69% medication error sebenarnya dapat dicegah. Salah satu tahap penyebab medication error adalah tahap prescribing/peresepan, dan penyebab medication error adalah tulisan dokter yang tidak bisa dibaca. PERMASALAHAN MIKRO Pelayanan resep yang diberikan kepada masyarakat di Puskesmas Paringin masih berupa kertas resep, sehingga menyebabkan kurang optimalnya pelayanan dilihat dari segi waktu, ketepatan penyimpanan, dan beban kerja dari pegawai yang bersangkutan. Dilihat dari segi waktu, peresepan kertas menyebabkan terjadinya penumpukan antrian pasien di Apotek. Dilihat dari segi penyimpanan, ada risiko arsip resep tercecer dikarenakan penyimpanan hanya dilakukan dalam segi fisik oleh petugas Apotek. Dilihat dari segi beban kerja pegawai, dokter harus melakukan peresepan melalui resep kertas lalu petugas SIMPUS harus menginput resep ke dalam aplikasi SIMPUS. Hal teersebut menyebabkan ketidakoptimalan baik untuk pasien maupun pegawai puskesmas sendiri. |
| Manfaat Inovasi | METODE PEMBAHARUAN Upaya yang Dilakukan Sebelum Inovasi Sebelum digunakan elektronik resep di Puskesmas Paringin, terjadi penumpukan pasien dikarenakan waktu pelayanan resep yang terlampau lama, hal tersebut menyebabkan pasien tidak nyaman untuk mengambil obat. Petugas Farmasi juga seringkali menelpon dokter jika ada penulisan resep yang tidak terbaca oleh petugas Farmasi. Upaya yang Dilakukan Setelah Inovasi Untuk mengoptimalkan pelayanan resep maka dilakukan suatu inovasi yaitu RESOL MAYU, diharapkan dengan adanya RESOL MAYU baik dari segi waktu pemberian obat, ketepatan penyimpanan, beban kerja pegawai maupun medication error dapat ditekan dan dioptimalkan di Puskesmas Paringin. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN Keunggulan atau kebaharuan dari penggunaan Elektronik Resep adalah kecepatan pelayanan sehingga meminimalisir antrian pasien. Keunggulan atau kebaharuan lain adalah resep masuk melalui komputer, sehingga mengurangi risiko kesalahan dalam pembacaan resep yang disebabkan oleh tidak terbacanya tulisan dokter yang meresepkan obat. TAHAPAN INOVASI 1) Petugas Apotek mencuci tangan dan memakai masker guna meningkatkan rasio patient safety 2) Melakukan pengecekan resep masuk pada aplikasi SIMPUS 3) Melakukan pemanggilan kepada pasien untuk memastikan bahwa resep yang diterima tepat sasaran 4) Meminta pasien menunggu untuk petugas Apotek mempersiapkan obat pasien 5) Petugas Apotek melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan resep yaitu nama dokter, nomor ijin praktek, alamat, tanggal penulisan resep, tanda tangan atau paraf dokter serta nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien. 6) Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmasetik yaitu bentuk sediaan, dosis, frekuensi, kekuatan, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian obat 7) Mengkaji aspek klinis dengan cara melakukan patient assessment kepada pasien yaitu adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan kondisi khusus lainnya), keluhan pasien dan hal lain yang terkait dengan kajian aspek klinis. Instruksi kerja : patient assessment terlampir (contoh: menggunakan metode 3 prime question) 8) Menetapkan ada tidaknya masalah terkait obat dan membuat keputusan profesi (komunikasi dengan dokter, merujuk pasien ke sarana kesehatan terkait dan sebagainya) 9) Mengkomunikasikan ke dokter tentang masalah resep apabila diperlukan |
| Hasil Inovasi | Manfaat yang diperoleh dengan adanya Inovasi adalah : 1. Manfaat bagi Petugas Kesehatan a. Memudahkan penyimpanan dan penelusuran resep bagi petugas di Apotek b. Mengurangi risiko resep tercecer/hilang pada saat penyimpanan resep di Apotek. c. Menurunkan beban kerja dokter dan petugas SMILE dalam peresepan maupun penginputan resep ke dalam aplikasi SMILE. 2. Manfaat bagi Pasien a. Mempercepat waktu tunggu obat pasien. b. Mengurangi risiko antrian di Apotek karena waktu tunggu yang terlalu lama c. Mengurangi risiko pasien kehilangan resep pada saat perjalanan menuju Apotek. |