Laporan Indeks Inovasi Daerah
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Nama SKPD / Kelompok | UPT Puskesmas Pirsus |
| Nama Inovasi | MUTAR (Temukan Tangani Anemia pada Remaja Putri) |
| Tahapan Inovasi |
|
| Inisiator Inovasi Daerah | Renny Hendriani, A.Md. Kep |
| Bentuk Inovasi |
|
| Jenis Inovasi | Belum ditentukan |
| Inovasi Dimulai | 09 March 2022 |
| Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan | Dasar Hukum Remaja Putri yang menderita anemia ketika menjadi ibu hamil beresiko melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR) dan Stunting. Dijelaskan lebih detail tentang percepatan penurunan stunting yang holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi dan singkronisasi diantara pemangku kepentingan pada Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021. Anemia merupakan keadaan dimana seseorang kekurangan zat besi. Hal ini dapat mempengaruhi aktivitas. Seorang remaja yang terkena anemia sangat sulit dalam melaksanakan aktivitas karena sering merasa pusing, pucat. Kondisi ini bila dibiarkan maka akan berdampak pada remaja di sekolah karena tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Pencegahan anemia pada remaja putri mengacu pada dasar hukum UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, disebut bahwa upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan dengan prioritas pada kelompok rawan gizi, yaitu bayi, anak balita, remaja perempuan, ibu hamil, dan menyusui. Kemudian dijelaskan lagi pada peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.75 tahun 2013 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia.
ISU STRATEGIS Strategi nasional percepatan penurunan stunting harus benar-benar dijalankan oleh seluruh pemangku kepentingan agar target penurunan angka stunting nasional bisa segera tercapai. Pemerintah telah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan target penurunan yang signifikan dari kondisi 24,4% pada 2021 menjadi 14% pada 2024. Strategi penurunan angka stunting juga sudah ditetapkan dalam strategi nasional percepatan penurunan stunting sesuai PP No 72 Tahun 2021. Peraturan Pemerintah tersebut mendorong sejumlah langkah, seperti peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan terkait program penurunan angka stunting di kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pemerintah desa. Selain itu, peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif. Upaya lain yang diamanatkan PP No 72 Tahun 2021 adalah peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat, serta penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi. Menurut Riskesdas tahun 2018, sekitar 65% remaja tidak sarapan, dan 97% kurang mengkonsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik serta konsumsi gula, garam dan lemak berlebihan. Anemia merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, letih dan lesu sehingga akan berdampak pada kreativitas dan produktivitasnya. Tak hanya itu, anemia juga meningkatkan kerentanan penyakit pada saat dewasa serta melahirkan generasi yang bermasalah gizi. Angka kejadian anemia di Indonesia terbilang masih cukup tinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada remaja sebesar 32 %, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktifitas fisik. Kementerian Kesehatan telah melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri dan ibu hamil. Selain itu, Kemenkes juga melakukan penanggulangan anemia melalui edukasi dan promosi gizi seimbang, fortifikasi zat besi pada bahan makanan serta penerapan hidup bersih dan sehat. |
| Tujuan Inovasi | Anemia pada remaja yaitu masalah kesehatan yang umum. Penyebab paling umum dari anemia pada remaja yaitu kekurangan zat besi. Anemia pada remaja adalah suatu kondisi yang terjadi ketika jumlah sel darah merah dan hemoglobin dalam tubuh turun dari batas normal. Sehingga ada remaja yang sering merasakan pusing, pucat, kurang konsentrasi dan sering lelah, akan berdampak serius pada saat hamil yang mengakibatkan risiko tinggi kematian ibu saat melahirkan, bayi lahir prematur, dan berat bayi lahir rendah dan berisiko stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehinggga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (Kerdil) dari standar usianya. Penyebabnya karena rendahnya terhadap akses makan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya pangan, dan sumber protein hewani. Tingginya angka anemia pada remaja putri yang ditemukan pada posyandu remaja desa Mihu, rata- rata sekitar 10 dari 12 orang remaja putri yang hadir setiap bulan mengalami anemia, menurut data KIA UPTD Puskesmas Pirsus tahun 2021 terdapat empat orang ibu hamil yang mengalami anemia. Sebelumnya sudah dilakukan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri di sekolah, tetapi tidak diminum secara rutin, dikarenakan kurangnya pengetahuan remaja putri tentang Anemia, dan tidak pernah dilakukan pemeriksaan Hb pada remaja putri. Sedangkan angka stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus juga masih tinggi, data terbaru bulan Agustus tahun 2022 ditemukan 18,92% dari 56 balita mengalami stunting. Hal ini yang menjadi perhatian tenaga kesehatan UPTD Puskesmas Pirsus untuk diciptakannya inovasi MUTAR (Temukan Tangani Anemia pada Remaja Putri) |
| Manfaat Inovasi | Upaya Yang dilakukan Sebelum Inovasi Pencegahan anemia pada remaja putri sebelum adanya Inovasi dilakukan rutin di sekolah tingkat SLTP dan SLTA Wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus dengan pemberian TTD (Tablet Tambah Darah) sekali dalam setiap tahun, tetapi pemberian TTD selama ini tidak efektif karena banyaknya remaja putri yang tidak meminum TTD .
Upaya Yang Dilakukan Setelah Inovasi Upaya yang dilakukan setelah inovasi berjalan dengan cara mengaktifkan posyandu remaja yang dilakukan setiap bulannya di beberapa desa wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus,melakukan pemeriksaan Hb (hemoglobin) ke sekolah SLTP dan SMA wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus, mengaktifkan kader kesehatan remaja, pemeriksaan Hb (Hemoglobin) pada remaja puteri setiap tiga bulan sekali bekerjasama dengan petugas laboratorium puskesmas Pirsus, serta bekerjasama dengan petugas gizi puskesmas untuk dilaukan konseling pada remaja dengan anemia. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN Keunggulan atau kebaharuan dari MUTAR (Temukan Tangani Anemia pada Remaja Putri) dapat terdeteksinya anemia pada remaja puteri dengan pemeriksaan Hb (Hemoglobin) setiap 3 bulan sekali, bagi remja yang anemia akan diberikan Tablet Tambah Darah untuk diminum, kegiatan ini dilakukan pada SMP, SMA dan posyandu remaja di desa wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus dan satu satunya posyandu remaja di Kabupaten Balangan yang melakukan pemeriksaan Hb (Hemoglobin) secara rutin di posyandu Remaja.
TAHAPAN INOVASI Tahapan pelaksanaan MUTAR, sebagai berikut : 1. Perencanaan Sebelum melakukan pelaksanaan, inovator melakukan perencanaan anggaran kegiatan yang akan dilaksanakan. Biasanya disusun dalam 1 tahun sebelumnya. Kemudian innovator berkordinasi dengan kepala desa untuk pelaksanaan kegiatan di desa tersebut. Kepala desa menunjuk kader yang akan membantu dalam proses kegiatan tersebut. Juga direncanakan dalam pembuatan video agar dapat di upload social media instagram. 2. Proses Pelaksanaan Proses pelaksanaan harus konfirmasi pada kader terlebih dahulu, kemudian saat ditentukan harinya, baru proses pelaksanaan berjalan. Pelaksanaan dilaksanakan dengan pengukuran tekanan darah, TB, BB, lingkar perut, LILA, dan yang paling penting adalah pengecekan HB pada remaja putri untuk mengentahui anemia atau tidak, kemudian diberikan tablet tambah darah. 3. Editing Editing adalah proses penyusunan video agar hasil pelaksanaan MUTAR dapat dilihat oleh public. 4. Publikasi Setelah melalui tahap editing, dilakukan publikasi di social media instagram puskesmas pirsus. |
| Hasil Inovasi | TUJUAN INOVASI MUTAR merupakan pelaksanaan posyandu remaja yang dibuat oleh Puskesmas Pirsus dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan pada masyarakat khususnya remaja putri. Penurunan kematian Ibu, penurunan risiko berat bayi lahir rendah, serta penurunan angka stunting pada balita yang Sesuai dengan tupoksi inovator perawat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
MANFAAT INOVASI Manfaat yang diperoleh dengan adanya inovasi MUTAR adalah : 1. Manfaat bagi Organisasi a. Bertambahnya cakupan pelaksanaan posyandu remaja di Puskesmas b. Peningkatan dan pencapaian kinerja instansi 2. Manfaat bagi Pemerintah Daerah a. Lebih mudah mengetahui kendala yang terjadi di masyarakat b. Lebih mudah berkoordinasi untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi 3. Manfaat bagi Masyarakat a. Mengetahui adanya remaja yang mengalami anemia b. Mengetahui akibat dari anemia pada remaja puteri c. Informasi yang didapatkan akurat dan dapat dipercaya, serta meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Balangan.
HASIL INOVASI Hasil dari inovasi MUTAR (Temukan Tangani Anemia pada Remaja Puteri) ditemukan hasil dari berjalannya pemeriksaan Hb (Hemoglobin) secara rutin didapatkan 80% dari remaja putri mengalami anemia, semua remaja putri yang anemia tertangani dengan diberikannya tablet tambah darah serta konseling terhadap diet yang tepat. Sehingga kedepannya dapat mengurangi adanya anemia pada remaja puteri, serta dalam jangka panjang dapat menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi, dan penurunan stunting, khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pirsus |